Selasa, 13 Desember 2011

AZAB TENTANG ALAM KUBUR

Renungan Jumat: Hadits Al-Bara’ bin ‘Azib tentang Azab Kubur


Berikut hadits dari Al-Bara’ bin ‘Azib ra tentang keadaan orang yang meninggal dunia dan bagaimana saat itu terjadi kemudian bagaimana setelah itu dia mengalami ujian di alam kubur yang dirangkum oleh Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Ahkam Al-Jana’iz hal. 198-202:



“Kami keluar bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membawa sesosok jenazah seorang laki-laki dari kalangan Anshar. Kamipun sampai di kuburan, dan ketika dia sudah dimasukkan ke dalam liang lahad Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lantas duduk menghadap kiblat dan kamipun duduk di sekitar beliau, seakan-akan ada burung di atas kepala kami. Di tangan beliau ada sebatang ranting kayu buat memukul-mukul tanah. Beliau sesekali melihat ke langit dan sesekali melihat ke tanah. Selanjutnya beliau mendongakkan pandangan dan agak menundukkannya sedikit sebanyak tiga kali. Beliau lalu bersabda, “Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa kubur!” Itu beliau ucapkan sebanyak dua atau tiga kali.


Kemudian beliau berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.” Sebanyak tiga kali. Selanjutnya beliau berpidato:


Sesungguhnya seorang hamba yang beriman bila sudah terputus dari kehidupan dunia dan menghadap ke akhirat maka turunlah malaikat dari langit yang putih wajahnya bagaikan matahari. Dia datang membawa kain kafan dari surga dan parfum mayat dari surga. Sampai kemudian mereka semua duduk di depan orang itu sejauh mata memandang. Selanjutnya, datanglah malaikat maut lalu duduk di kepalanya sambil berkata, “Wahai jiwa yang baik (dalam sebuah riwayat, “jiwa yang tenang”), keluarlah menuju ampunan dan keridhaan dari Allah.”


Lalu jiwa itu keluar mengalir bagaikan mengalirnya tetesan air dari atap lalu malaikat maut mengambilnya.


Dalam riwayat lain: sampai ketika jiwanya sudah keluar maka seluruh malaikat antara langit dan bumi memberikan shalawat kepadanya, juga semua malaikat yang ada di langit, lalu dibukakanlah pintu-pintu langit. Semua penghuni pintu itu berdoa kepada Allah agar jiwa orang ini naik dari arah (pintu) mereka.


Ketika dia (malaikat maut) sudah memegang ruh orang ini maka para malaikat yang lain tidak membiarkannya meski sekejap mata melainkan langsung menempatkannya dalam kain kafan tadi dengan wewangiannya. Itulah firman Allah,


“…ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (Qs. Al-An’am: 61).


Dia keluar dari situ dalam keadaan bau terharum yang dimiliki aroma kesturi yang pernah ada di muka bumi. Selanjutnya, para malaikat ini naik membawa jiwa orang tersebut dan setiap kali mereka melewati malaikat, maka merekapun selalu bertanya, ”Gerangan jiwa siapakah yang harum ini?”


Malaikat yang membawa menjawab, ”Ini adalah jiwanya si Fulan bin Fulan”. Disebutkan namanya yang terbaik yang biasa disandangnya selama di dunia. Sampai ketika mereka tiba di langit dunia dan mereka minta dibukakan pintu untuk si ruh yang mereka bawa. Pintupun dibukakan untuk mereka. Ini dijadikan pengumuman oleh para malaikat yang didekatkan dari setiap langit yang dilewati sampai ke langit yang ketujuh, maka Allah pun berfirman, ”Tulislah catatan hamba-Ku ini dalam iliiyyin.”


”Tahukah kamu Apakah ‘Illiyyin itu? (yaitu) kitab yang bertulis.” (Qs. Al-Muthaffifin: 19-20).


Kemudian dikatakan, ”Kembalikan dia ke bumi, karena Aku sudah berjanji kepada mereka bahwa aku menciptakan mereka dari sana dan ke sana pula aku mengembalikan mereka lalu dari sana pula Aku akan membangkitkan mereka sekali lagi.”


Lalu dia dikembalikan ke bumi dan ruhnya dimasukkan lagi ke dalam jasadnya. Dia juga mendengar suara sandal teman-temannya tatkala mereka meninggalkan kuburannya.


Selanjutnya, datanglah dua orang malaikat yang kasar bentakannya menyergah dan mendudukkannya lalu berkata, ”Apa agamamu?”
Dia menjawab, ”Agamaku Islam.”


Mereka bertanya lagi, ”Siapa orang yang diutus untuk kalian ini?”
Dia menjawab, ”Dia adalah utusan Allah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.”


Mereka bertanya lagi, ”Apa saja yang kau kerjakan?”
Dia menjawab, ”Aku membaca kitab Allah, lalu aku beriman kepadanya dan membenarkan isinya.”


Malaikat itu membentaknya dalam pertanyaan, ”Siapa tuhanmu, apa agamamu, siapa nabimu?” Itu adalah fitnah (ujian) terakhir yang disodorkan kepada seorang mukmin dan itulah yang dikatakan oleh Allah,


”Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia.” (Qs. Ibrahim : 27).


Sehingga dia bisa menjawab, ”Tuhanku Allah, agamaku Islam, Nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”


Lalu ada suara panggilan dari langit yang berbunyi, ”Hamba-Ku ini benar, maka bentangkan kasurnya dari surga, pakaikan dia pakaian dari surga, bukakan untuknya pintu menuju ke surga!”


Sehingga keharuman bau surga menyentuhnya dan kuburannya pun diperluas sejauh mata memandang.


Beliau berkata lagi, ”Lalu datanglah (dalam riwayat lain: lalu diserupakanlah) seorang laki-laki yang bagus wajahnya, bagus pakaiannya dan berbau harum yang berkata, ”Bergembiralah dengan apa yang membuatmu mudah” (bergembiralah dengan keridhaan dari Allah dan surga-surga yang di dalamnya ada kenikmatan abadi). Ini adalah hari yang dijanjikan untukmu.”


Dia balik berkata, ”Kamu juga diberi kabar gembira oleh Allah, siapa dirimu gerangan? Wajahmu menunjukkan wajah yang datang membawa kebaikan.” Orang tadi menjawab, ”Aku adalah amal shalihmu. Demi Allah, aku tidak mengetahui tentangmu kecuali bahwa kau cepat melaksanakan perintah Allah dan lambat mengerjakan kemaksiatan pada Allah, maka Allah membalasmu dengan kebaikan.”


Kemudian dibukakanlah untuknya salah satu pintu surga dan salah satu pintu neraka, lalu dikatakan, ”Ini adalah tempatmu kalau saja kamu bermaksiat kepada Allah tapi Allah telah menggantinya dengan yang ini.” Kalau dia melihat apa yang ada dalam surga maka dia akan berkata, ”Wahai Tuhanku, percepatlah datangnya kiamat, agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku.” Dikatakan kepadanya, ”Tenanglah.”


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan:


Sedangkan kalau yang mati itu adalah orang kafir (dalam sebuah riwayat orang fajir atau durjana) ketika dia akan berpisah dengan dunia dan menuju ke akhirat maka akan turun para malaikat yang kasar dan bengis dari langit kepadanya. Wajah mereka hitam mereka membawa permadani kasar dari api neraka. Mereka duduk di hadapan orang kafir ini sepanjang mata memandang. Lalu datanglah malaikat maut duduk di kepalanya dan berkata, ”Wahai jiwa yang jelek keluarlah menuju kemurkaan dan kebencian dari Allah!”


Lalu ruhnya keluar dari jasad dan dirampas bagaikan merampas sabut yang berserat banyak dari bulu domba yang basah sehingga banyak keringat dan urat-urat yang terputus darinya. Dia lalu dilaknat oleh setiap malaikat antara langit dan bumi, serta semua malaikat yang ada di langit. Pintu-pintu langit ditutup untuknya. Tidak ada pintu kecuali penjaganya akan berdoa kepada Allah agar ruh orang ini tidak naik kepada Allah melalui pintu mereka.


Malaikat maut kemudian mengambil ruhnya dan ketika sudah diambil hanya dalam sekejap mata mereka menempatkannya dalam permadani kasar tadi dan keluar dari sana sebagai bau terbusuk dari bangkai yang pernah ada di muka bumi. Mereka membawanya naik dan setiap kali berpapasan dengan malaikat mereka akan berkata, ”Ruh siapa yang jelek ini?” Malaikat yang membawanya ini akan menjawab, ”Fulan bin Fulan.” Disebutkan nama terjeleknya yang pernah dilekatkan kepadanya selama di dunia. Sampai akhirnya mereka tiba di langit. Ada permintaan untuk membuka pintu langit untuk ruh orang ini tapi tidak akan dibukakan.”


Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa ayat, yang artinya:


“….dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum….”(Qs. Al-A’raf: 40).


Allah ’Azza wa Jalla kemudian berfirman, ”Tulislah hamba-Ku ini ke dalam sijjin dan dalam bumi yang paling bawah!”


Kemudian dikatakan, ”Kembalikan hamba-Ku ini ke bumi, karena Aku berjanji di sanalah Aku menciptakan mereka dan di sana pula aku mengembalikan mereka dan dari sanalah mereka akan Aku keluarkan sekali lagi.”


Kemudian ruhnya itu dilemparkan dari langit sampai menimpa tubuhnya. Kemudian beliau membaca ayat:


”…..Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Qs. Al-Hajj: 31).


Maka dikembalikanlah ruhnya kepada jasad. Dia akan mendengar suara sandal teman-temannya bila sudah pulang dari mengantarnya ke pemakaman.


Selanjutnya, dia didatangi dua malaikat yang keras bentakannya yang langsung membentak dan mendudukkannya lalu berkata, ”Siapa Tuhanmu?” Dia akan menjawab, ”hah…hah…aku tidak tahu.”


Malaikat itu bertanya lagi, ”Apa agamamu?”


Dia juga akan menjawab, ”Hah…hah…aku tidak tahu.”


Malaikat bertanya lagi, ”Apa pendapatmu tentang orang yang diutus kepada kalian ini?” Tapi dia tidak diberi petunjuk akan namanya sampai dikatakan kepadanya, ”Dia itu Muhammad.” Dia berkata, ”Hah…hah…aku tidak tahu, Aku hanya mendengar manusia mengatakan sesuatu lalu aku mengatakan hal yang sama.”


Lalu dikatakanlah, ”Kamu memang tidak tahu dan tidak akan membaca.”


Selanjutnya ada panggilan dari langit mengatakan, ”Dia berdusta! Bentangkan dia di neraka dan bukakan pintu neraka menghadap ke arahnya.” Akhirnya hawa neraka itu menghampirinya dan kuburannya pun dipersempit sampai tulang persendiannya berhimpitan terpisah-pisah.


Kemudian datanglah kepadanya seorang laki-laki (dalam riwayat lain diserupakan untuknya seorang laki-laki) yang buruk rupa, berpakaian jelek dan berbau busuk dan berkata padanya, ”Gembiralah dengan kabar yang akan memburukkanmu, inilah hari yang dijanjikan untukmu.”


Dia berkata, ”Kamu ini datang membawa kabar buruk dari Allah, siapa kamu? Wajahmu menunjukkan keburukan.”


Orang itu menjawab, ”Aku adalah amal burukmu. Demi Allah, aku tidak tahu hal lain kecuali bahwa kamu ini lambat dalam ketaatan kepada Allah tapi cepat bermaksiat kepada Allah. Maka Allah pun mengganjarmu dengan keburukan.”


Kemudian didatangkanlah kepadanya orang yang bisu, tuli di tangannya ada palu godam yang kalau dipukulkan ke gunung maka gunung itu akan hancur menjadi tanah. Orang itu lalu memukulnya dengan sebuah pukulan sampai dia menjadi tanah, kemudian dikembalikan oleh Allah sebagaimana biasa dan dipukul lagi. Dia menjerit dengan jeritan yang bisa didengar oleh semua benda kecuali jin dan manusia. Lalu dibukakanlah sebuah pintu neraka untuknya dan diapun berkata, ”Wahai Tuhan jangan datangkan hari kiamat”.”


http://renunganbimo.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar